Sejarah Indomie Yang Belum Banyak Diketahui

Sejarah Indomie Yang Belum Banyak Diketahui

Kata Indomie seolah begitu familiar di telinga masyarakat. Rasanya yang gurih, enak, dan lezat membuat Indomie menjadi kegemaran banyak kalangan usia. Saking populernya, Indomie menjadi nama pengganti dari sebutan mie instan.

Indomie menjadi salah satu produk paling laku yang dibeli di dunia. Januari 2017 lalu, perusahaan riset Kantar Worldpanel menggelar survei dengan hasilnya Indomie berada di peringkat ke delapan.

Merek Indomie pertama kali dirintis oleh Djajadi Djaja lewat PT Djangkar Djati. Djangkar Djati akan berubah nama menjadi PT Wicaksana Overseas International Tbk, salah satu distributor produk-produk consumer goods terbesar di Indonesia).

Pada April 1970, sebagai anak usaha dari Djangkar Djati, Djajadi mendirikan PT Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd dan memperkenalkan ke publik merek baru: Indomie (singkatan dari Indonesia Mie) pada tahun 1972.

Indomie merupakan produk mi instan kedua yang muncul di Indonesia, setelah Supermi yang dirintis oleh Sjarif Adil Sagala dan Eka Wijaya Moeis.

Produk awalnya hanya rasa kaldu ayam dan udang, dan hingga awal 1980-an, Supermi dan Indomie menjadi duopoli di pasar.

Selain memasarkan produknya dalam negeri, pada 1982-1983 Sanmaru juga mulai melakukan ekspor ke negara tetangga, seperti Brunei, Malaysia dan Singapura serta ke Eropa, Australia dan Amerika Serikat Pabriknya ada di Ancol, Jakarta Utara.

Sejarah awal Indomie diproduksi untuk pertama kalinya pada tahun 1972 silam. Indomie berasal dari padanan kata Indonesia dan mie.

Sedangkan produk indomie yang pertama kali diperkenalkan adalah Indomie rasa Kaldu Ayam yang sesuai dengan selera lidah masyarakat Indonesia saat itu.

Dua rasa pertama yang dikenalkan adalah Rasa Sari Ayam dan Rasa Sari Udang. Tahun 1982, Indomie Rasa Kari Ayam dikenalkan.

Penjualan Indomie, mengalami peningkatan yang sangat signifikan pada tahun 1982 seiring dengan diluncurkannya varian Indomie Kuah Rasa Kari Ayam.

Produk Indomie semakin digemari oleh masyarakat Indonesia pada tahun 1983 dengan diluncurkannya varian Indomie Mi Goreng.

Sosok dibalik terciptanya Indomie adalah 4 orang asal Medan yaitu Djahjadi Djaja, Wahyu Tjuandi, Ulong Senjaya, dan Pandi Kusuma.

Mereka pertama kali memproduksi Indomie lewat PT Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd. Terciptanya Indomie, dilatarbelakangi kelangkaan beras yang semakin melanda Indonesia saat itu.

Sedangkan peracik bumbu Indomie adalah tokoh kuliner Indonesia Nunuk Nuraini yang telah wafat pada Rabu 27 Januari 2021 lalu.

Selanjutnya, Soedono Salim yang merupakan pemilik perusahaan Sarimi, tertarik untuk bekerja sama dengan Djajadi Djaja. Selanjutnya sejak tahun 1990, Sarimi dan Indomie berada di bahan perusahaan yang sama, yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur.

Kepopuleran Indomie kian meningkat, bahkan tidak hanya populer di Indonesia, Indomie kini telah menjadi merek mie instan yang mendunia. Banyak orang di berbagai negara yang juga jatuh hati dengan cita rasa Indomie sesuai dengan semboyannya “Indomie Seleraku…..,”.

Los Angeles Times, juga pernah menobatkan Indomie sebagai mie instan terenak nomor satu di dunia, mengalahkan produk mi instan lain dari Korea Selatan, Thailand, bahkan Jepang.

Seiring kesuksesan tersebut, banyak juga masyarakat yang menggantungkan hidup lewat berdagang Indomie matang.

Ini terbukti dari menjamurnya warung – warung Indomie pinggir jalan yang biasanya dikombinasikan dengan warung kopi.

Selain itu, banyak juga orang yang mengkreasikan Indomie menjadi hidangan unik untuk kemudian di jual Kembali.

Varian rasa Indomie yang paling laris salah satunya adalah mi goreng. Sejak awal kemunculannya di tahun 1982, Indomie terus melakukan inovasi untuk menemukan rasa yang paling pas dan familiar di lidah masyarakat Indonesia.

Kemudian Indomie mengganti bubuk cabai dengan saus pedas dan menambah bawang goreng sebagai pelengkap. Menjadi best seller di Tanah Air, Indomie goreng selanjutnya diekspor ke banyak negara termasuk Amerika Serikat, Australia, Inggris, Timur Tengah dan China.

Pasca kejatuhan Orde Baru, Djajadi tampaknya berusaha mengambil peluang dengan kondisi masyarakat yang tidak menyukai kroni Soeharto.

Pada 17 Desember 1998 ia menggugat Indofood ke pengadilan, karena ia merasa telah dipaksa menjual sahamnya dan mereknya di PT Indofood Interna dengan harga rendah.

Di bawah Salim, sejak 1984 sampai sekarang, pamor Indomie tetap berjaya dan dikenal oleh masyarakat Indonesia dengan berbagai variannya.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.